“MER-C Siap Ajukan Gugatan ke ICC/ICJ dan UNHRC ( United Nation Human Right Council) “.

Tabloidcitra.com. Jakarta. MER-C sebagai lembaga sosial kebencanaan dan kegawat daruratan medis mengadakan konferensi pers yang dilaksanakan di Sekretariat MER-C, Jl. Kramat Lontar No. J-157, Senen, Jakarta Pusat 10440 Rabu (15/05).

Sejak 17 April hingga hari ini kita disuguhi kurva angka kematian para Petugas KPPS yang sudah menembus angka 600 lebih.

Menyikapi tragedi ini, MER-C menilai Pemerintah dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu tahun ini telah abai kemanusiaan, melakukan pembiaran dan tidak melakukan upaya serius yang signifikan dalam menangani kasus ini, menyebabkan anak-anak bangsa terus berjatuhan dari hari ke hari.

Sejak berlangsungnya Pemilihan Umum Eksekutif dan Legislatf pada tangal 17 April 2019 lalu hingga hari ini kita disuguhi kurva angka kematian dan kesakitan para KPPS yang terus meningkat dari hari ke hari, tanpa bisa berbuat banyak Korban-korban terus berjatuhan hingga menembus angka 600 lebih yang meninggal.
Litbang salah satu TV swasta bahkan pada hari Selasa/14 Mei 2019 kemarin merilis jumlah korban meninggal akibat Pemilu sudah mencapai 606 orang. Sementara untuk sakit jika kita merujuk pernyataan Kemenkes yang menyampaikan data terakhir dari KPU menyebutkan bahwa petugas KPPS yang menderita sakit usai menjalankan
tugas sebanyak 10.997 orang.

MER-C sejak 2 minggu pasca Pemilu, telah menetapkan jatuhnya korban-korban
sebagai bencana kemanusiaan. MER-C pun membentuk Tim Mitigasi Kesehatan masyarakat dan keluarga korban melaporkan apabila ada anggota keluarga mereka yang sakit danmeninggal usai bertugas untuk ditindak lanjuti oleh Tim MER-C.

MER-C juga tenaga Bencana Pemilu 2019. MER-C juga membuka Call Center untuk
fokus melengkapi data base tentang penyebab kematian korban-korban Pemilu.
Bagaimanapun sebuah bencana kemanusiaan telah terjadi. Sebuah kondisi luar biasa
yang seharusnya mendapat perhatian cepat dan serius dari Pemerintah dan KPU.

Menyikapi bencana ini, MER-C menilai Pemerintah dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu tahun ini telah abai kemanusiaan, melakukan pembiaran dan tidak melakukan upaya serius yang signifikan dalam menangani kasus ini, menyebabkan anak-anak  bangsa terus berjatuhan dari hari ke hari. Tidak ada upaya serius untuk melakun tindakan mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.

MER-C mendesak Pemerintah dan KPU untuk peduli baik dalam hal turun melihat korban-korban yang sakit dan menangani mereka termasuk pembiayaan rumah sakit
dan seterusnya hingga mereka sembuh, hal ini untuk mencegah kematian banyak

Medical Emergency Rescue Committee Sebuah Amanah bagi Kemanusiaan untuk Orang-orang yang paling Membutuhikan
Giving Hope to Humanity and Help to People that need it the most Pola penanganan korban bencana Pemilu ini juga harusnya dalam kerangka Penanganan
Bencana atau suatu Kejadian Luar Biasa (KLB), artinya begitu ada info jatuh korban baik dari call center yang dibentuk atau apapun maka yang merespon adalah Tim Ahli yang sudah dibentuk untuk melakukan assessment (triage) terhadap penyakit yang diderita
dan investigasi causa sakit yang akurat.

Hal ini dilakukan agar tercapai response time dan diagnosis serta tindakan yang akurat. Bagi pasien yang meninggal juga dilakukan investigasi  verbal sampai kepada autopsy klinis agar sebab mati bisa diketahui dengan pasti untuk
digunakan sebagai mitigasi
mulai dari autopsy pemilu berkutnya.
Apabila Pemerintah dan KPU tetap abai atas kasus bencana kemanusiaan Pemilu 2019
maka MER-C akan siapkan gugatan ke Mahkamah Pidana internasional (Int Criminal Court/ICC, Mahkamah Internasional (international Court of UNHRC (United Nation Human Right Council).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com